Archive for September, 2008

Perutusan Eidilfitri AMIR

Bismillahirahmanirrahim. Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) rabbul ‘alamin (Tuhan yang mencipta dan memelihara seluruh alam). Selawat kepada junjungan rasul, Muhammad, yang mulia dan kepada keluarga serta sahabat baginda, generasi pertama para pejuang agama ini, yang mewariskan petunjuknya kepada kita umat manusia dan seluruh alam.

Sesungguhnya tarbiyah yang terbaik hanyalah yang datang dari Tuhanmu. Selamat graduasi saya ucapkan kepada seluruh umat islam di Jepun khususnya dan umumnya di seluruh pelusuk dunia. Yang telah menyempurnakan ibadah puasa dan menjalani aktiviti men’recharge’ diri. Mungkin ramai orang yang diberi kesempatan untuk mendaftarkan diri dan hadir ke kem tarbiyah ini. Tetapi, tidak semua orang diberikan peluang olehNya melalui untuk kem ini dengan memperoleh kebaikan di dalamnya. Sesungguhnya anda telah berjaya (Almukminun, : 1) Apapun kebaikan yang kita perolehi dari bulan yang penuh berkah ini, adalah dengan izinNya dan janganlah sekali-kali kita merasa bangga dengan tindakan, amalan, dan ibadah kita yang sedikit itu. Sesungguhnya ini hanyalah merupakan satu dari persinggahan (seperti kem musim panas) dalam pendidikan kita yang panjang. Banyak lagi yang perlu kita harungi dalam membebani tugas yang mulia ini.

Sesungguhnya ibadah (solat, puasa, menghayati al-Quran, bersedekah dan sebagainya) itu adalah merupakan bekal. Bekal buat ujian yang saban hari menjenguk kita. Bekal buat perjuangan yang berpanjangan. Tiadalah ibadah itu melainkan untuk mengisi api perjuangan yang makin kehabisan minyaknya. Untuk menjahit layar-layar kapal yang koyak di tengah-tengah pelayarannya. Semoga api dakwah dapat terus kita nyalakan. Semoga pelayaran dapat kita teruskan di lautan dunia yang bergelora ini.

Amal ibadah perlulah diselarikan dengan perjuangan. Kita tidak mengisi minyak melainkan untuk menyalakan api, tidak pula menjahit layar melainkan untuk meneruskan perjalanan. Kita bukannya semata-mata ‘abid, tetapi juga singa-singa Allah yang sentiasa menjaga agamaNya.

“Janganlah pula amal ibadah yang agong ini kau rosakkan!!” jangan kau rosakkan dengan maksiat di bulan Syawal. Ramadhan adalah stesen untuk mengambil bekal, buat perjalanan setahun. Sampai kau tiba pula ke stesen Ramadhan yang seterusnya, ketika itu kau sangat merasa dahaga dan tibalah masanya untuk mengambil bekal semula.

Selamat meraikan hari graduasi kita dari kem tarbiyah ramadhan kali ini. Akhir kata saya akhiri dengan sebuah hadith diriwayatkan oleh Sufyan bin Abdullah (radhiAllahu ‘anhu)

Aku berkata kepada Rasulullah “Katakan kepadaku sesuatu tentang Islam, yang aku tak akan bertanya tentangnya lagi selepas itu.” Rasulullah menjawab “Katakan aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah”

Hadith riwayat Imam Muslim

Sumber asal dari AMIR-net

Mengapa Mesti Satu Juz?

Hendaklah anda memiliki wirid harian membaca Al Qur`an minimum satu juz dan berusahalah bersungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkannya melebihi waktu satu bulan (Hasan Al-Banna)

Al Qur`an adalah sebuah kitab yang benar-benar luar biasa. Di dalamnya terdapat lautan hikmah dan pelajaran serta kebaikan untuk seluruh umat manusia tak terkecuali seorang pun. Jika seseorang sedang melakukan perjalanan jauh, tentu saja ia akan membawa bekal yang cukup untuk perjalanannya. Begitu pula halnya dengan Al Qur`an, Allah menurunkan Al Qur`an sebagai bekal (tazwid) dalam perjalanan hidup manusia. Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan maka seseorang tentu akan kesulitan mengharungi perjalanan panjang yang cukup meletihkan ini.

Al Qur`an diturunkan bukan hanya untuk disia-siakan, atau sekadar menjadi hiasan yang berdebu di dalam rumah kita. Justru Al Qur`an diturunkan agar manusia mengambil pelajaran dari dalamnya dengan cara membaca, menjiwai, bahkan menghafalnya, dan tentu saja yang terpenting setelah itu semua adalah mengamalkannya dalam kehidupan kita. Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai seorang muslim sementara kitab kita sendiri tidak pernah dibaca atau disentuh. Bagaimana pula kehidupan seseorang yang jauh dengan Al Qur`an? Sesungguhnya berjauhan dengan Al Qur`an akan membuat ruhiyyah kita kering dan dapat melemahkan kita dalam menghadapi permasalahan hidup.

Allah di dalam Al Qur`an telah memberi jaminan dan anugerah bagi mereka yang selalu membaca Al Qur`an :

”Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Faathir : 29)

Keislaman kita hendaknya mampu membentuk komitmen dalam tilawah, lebih dari sekadar membaca, bahkan mesilah membentuk sikap ta`abbud kepada Allah sehingga menjadi sebuah proses tazwid yang berterusan. Bagaimana jika proses tazwid ini tertinggal selama seminggu, dua minggu, atau bahkan lebih? Ibarat seorang atlit olahraga yang akan menghadapi pertandingan besar. Ketika ia tidak melakukan latihan secara berterusan, maka otot-ototnya akan tegang dan ketika pertandingan dimulai, boleh jadi ia mesti melakukan warming-up yang lebih dan kemudian ia akan keletihan sebelum menghadapi pertandingan itu, karena apa? Karena persiapan yang ia lakukan tidaklah mencukupi dan terburu-buru.

Tarbiyah adalah proses perjalanan beribu-ribu kilometer jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lalui saat ini. Membina diri dengan Al Qur`an adalah suatu keperluan, karena sumber kebenaran itu ada pada Al Qur`an. Lalu mengapa mesti satu juz perhari? Kita mesti serius dengan tilawah satu juz perhari karena itu merupakan hakikat `ubudiyah, disiplin, dan akan menambah tsaqofah (ilmu/ wawasan). Apalagi jika kita telah memberi komitmen untuk menegakkan islam di bumi Allah ini, maka hendaknya kita menjadi batu-bata yang kukuh dalam bangunan islam. Sejarah mencatat bahwa para salafush shalih menyikapi apa yang disabdakan Rasulullah saw, ”Bacalah Al Qur`an dalam satu bulan!” sebagai sesuatu yang paling minimum. Subhanallah, bayangkan saja para salafush shalih, sahabat maupun sahabiyah yang kita tahu tingkat kualiti diri mereka yang sungguh luar biasa pun menjadikan satu juz itu sebagai target minimum dalam satu hari. Sementara kita pada hari ini, sebahagian besar menganggap satu juz itu sebagai target maksimum dalam satu hari. Jika demikian, bagaimana mungkin kita dapat mengulangi kejayaan para sahabat dalam membangun islam ini?

Jika tarbiyah qur`aniyah kita telah matang, kita pasti akan dapat merasakan bahawa sentuhan tarbawi surah Al-Baqarah berbeza dengan Ali-Imran. Begitu pula dengan surah-surah yang lainnya. Boleh jadi ketika seseorang sedang membaca surah An-Nisa, ia merindukan surah Al-Ma`idah. Itulah suasana tarbiyah yang belum kita rasakan dan harus dengan serius kita bina dalam diri kita. Sungguh, Al Qur`an adalah sarana tarbiyah terbaik bagi diri dan kehidupan kita, sarana membina diri, karena di dalamnya ketika lembar demi lembar kita buka dan kita baca sekaligus kita jiwai, maka kita akan merasakan suatu keunikan tersendiri dari Al Qur`an. Itulah mengapa dikatakan Al Qur`an adalah sebuah kitab yang luar biasa karena ia adalah perkataan Allah yang dipenuhi oleh pelbagai hal yang luar biasa.

Cara Bersungguh-Sungguh Dalam Tilawah Satu Juz setiap hari

1. Berusaha melancarkan tilawah jika belum lancar. Ukuran standard membaca satu juz adalah 30-40 minit, jika lebih lama dari itu maka berusahalah untuk memperlancar bacaannya. Bayangkan saja 30-40 minit dari 24 jam bukanlah waktu yang lama, namun kadang-kala kita lebih selalu berborak kosong atau menonton TV berjam-jam berbanding mengkhususkan masa untuk Al Qur`an selama setengah jam dalam satu hari.

2. Aturlah dalam diri kita ketentuan untuk komitmen ibadah satu juz tilawah perhari, jika tidak tercapai, hendaknya kita iqab (semacam hukuman) diri kita dengan iqab yang mampu membangkitkan kesungguhan kita, misalnya jika hari ini tidak sampai satu juz, maka esok harinya kita akan menggandakannya menjadi dua juz. Sebagai contoh para sahabat yang sering meng-iqab diri dengan bersedekah atau menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah. Subhanallah.

3. Cari tempat-tempat yang kondusif untuk melakukan tilawah karena kadang-kala kita memerlukan waktu sejenak untuk menyendiri.

4. Sering mengadu kepada Allah dan memohon untuk dimudahkan kesungguhan dan komitmen dalam melaksanakan ibadah tilawah ini. Bahkan selitkan di antara doa-doa kita permohonan agar kita dijadikan orang-orang yang dekat dengan Al Qur`an. Amin.

5. Perbanyak amal saleh karena amal saleh dapat menghasilkan energi baru untuk amal saleh selanjutnya.

Cabaran yang Harus Diwaspadai

1. Perasaan menganggap remeh ketika sehari tidak membaca Al Qur`an
2. Lemahnya wawasan tentang Al Qur`an sehingga tidak timbul motivasi untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al Qur`an
3. Tidak memiliki waktu wajib membaca Al Qur`an, dan membaca Al Qur`an sesempatnya saja atau bahkan dengan waktu-waktu sisa kita
4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan tilawah
5. Terpengaruh dengan  lingkungan sekeliling yang tidak memiliki perhatian terhadap tilawah Al Qur`an
6. Tidak tertarik dengan majlis yang menghidupkan Al Qur`an

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah lalu di antara mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketenangan yang diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah swt menyebut nama-nama mereka di sisi makhluk yang ada di dekatNya.” (HR. Imam Muslim)

Akibat Tidak Serius Melakukan Tilawah

1. Sedikitnya barakah dakwah atau `amal jihadi kita dan menjadi tanda lemahnya hubungan sebagai jundi kepada Allah swt.
2. Kemungkinan lainnya, tertangguhnya pertolongan Allah swt dalam amal jihadi. Jika salafush shalih saja tertangguh kemenangannya hanya karena meninggalkan sunah bersiwak, apalagi jika meninggalkan amal yang keperluannya jauh lebih besar dari itu.
3. Semakin jauhnya ashshalah (orisinilitas) dakwah. Dakwah kita adalah dakwah bil qur`an, mana mungkin kita mengumandangkan dakwah sementara hubungan kita dengan Al Qur`an sendiri lemah
4. Semakin jauhnya dakwah dari nuansa ilmu, padahal hakikat dakwah adalah meningkatkan kualiti keilmuan umat

Maraji` : Tarbiyah Syakhsiyah Qur`aniyah, Abdul Azis Abdur Rouf, LC

(diubah suai sedikit ke Bahasa Malaysia oleh matapensel)

catatan matapensel: Bagaimana tilawah dan tarbiyyah qur’ani kita di bulan Ramadhan? Syabas bagi yang berjaya khatam. Moga terus istiqamah di luar Ramadhan.

Mutiara Al-Quran: Pintu Syurga vs Pintu Neraka – Abdul Sattar

Salah satu kecantikan Al-Quran ialah ia diturunkan dalam bahasa Arab. Sebahagian daripada mutiara yang boleh diambil tidak memerlukan seseorang itu untuk tahu 13 cabang ilmu bahasa Arab atau belajar selama 13 tahun. Hanya mengetahui satu huruf mampu menukar keseluruhan cerita, itulah keindahan yang Quran tawarkan kepada kita. InshAllah contoh seperti ini akan menggalakkan kita untuk menyelami lautan Al-Quran dan belajar bahasanya.

Allah berfirman dalam Surah Zumar 39:71

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ – قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (neraka) pintu-pintunya dibukakan dan penjaga-penjaga berkata kepada mereka “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Tuhan, dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan (dengan) harimu ini?” Mereka menjawab, “Benar, ada,” tetapi ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir”



Mari kita lihat ayat dari surah yang sama yang menceritakan tentang penghuni Syurga 39:73-74

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ – وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dihantar ke dalam Syurga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (Syurga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-pengajanya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan ) atasmu, bebahagialah kamu! Maka masuklah kamu kekal di dalamnya.” Dan mereka berkata “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janjiNya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati Syurga di mana sahaja yang kami kehendaki. “Maka (Syurga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal

Terjemahan ini tidak mampu menyingkap kecantikan dan mezahirkan perbezaan kepada kedua ayat di atas yang hanya mampu disingkap dalam bahasa Arab. Mari kita lihat kedua ayat tersebut sekali lagi, fokus kepada bahagian awal dari setiap ayat. Saya telah membezakan bahagian yang merupakan satu-satunya perbezaan antara kedua ayat tersebut.
Continue reading ‘Mutiara Al-Quran: Pintu Syurga vs Pintu Neraka – Abdul Sattar’

Pesta Ibadah

“Ikhwah! Cepat! Pesta ibadah sudah nak bermula”

Begitulah bait-bait SMS yang tertera di handphone saya 4 tahun lalu. 

Ramadhan 2004 mengajarkan kami erti kemanisan Ramadhan yang selama ini hanya kami kenal sebagai bulan lapar dan dahaga. Saya tidak pasti apa pencetusnya, tetapi pada Ramadhan tersebut satu budaya baru telah wujud dalam masyarakat kami, iaitu budaya iktikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Budaya yang bukan bidaah, sebaliknya sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. 

Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudri RA, baginda sering beriktikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutamanya pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini dianggap remeh sehingga sering ditinggalkan oleh orang-orang Islam, sehinggakan Imam az-Zuhri berkomentar;

Aneh benar keadaan orang Islam, mereka tinggalkan ibadah iktikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah sehingga wafatnya disana. 

Budaya baru ini menjadi satu kegilaan buat kami, sehingga di hari sekolah pun ada ikhwah yang sanggup berulang dari tempat tinggalnya ke Masjid yang memakan masa hampir 2 jam perjalanan. Selepas habis kelas terakhir, setiap dari kami akan bertukar SMS, mengingatkan satu sama lain akan pesta ibadah yang bakal bermula.

Malam-malam Iktikaf dilalui dengan indah. Bacaan imam yang khusyuk dan penuh penghayatan, ditutup pula dengan rintihan doa Qunut kepada Rabb yang Maha Esa, membuatkan hati-hati kami bergetar dengan frekuensi yang tidak mampu digambarkan dengan bait-bait tulisan. Satu kenikmatan “getaran hati” yang mana-mana ahli Tafsir pun sulit untuk menerangkannya. Getaran yang harus dicari dan dirasai sendiri.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (8:2)

Kerana kenikmatan itulah, saya sering memilih untuk menghabiskan Ramadhan di bumi ini. Walaupun ramai yang berkata puasa di tanahair lebih seronok, ada bazaar, ada suasana dan sebagainya, tetapi kenikmatan iktikaf amat sukar dicari di tanahair. Tidak banyak masjid yang membenarkan iktikaf, kebanyakannya dikunci kerana takut akan pencuri.

Ramadhan hanya tinggal beberapa hari lagi.

“Ikhwah! Cepat! Pesta ibadah sudah hampir ke penghujungnya”

Gema Ramadhan Edisi 1

Alhamdulillah, Gema Ramadhan Edisi 1 berjaya diterbitkan. Newsletter ini boleh di download dari website AMIR di sini (Anda perlu login untuk download)

Antara yang menarik ialah: Perutusan Ramadhan, Risalah Selasa Edisi Ramadhan, Berita AMIR.

Kem Ramadhan 1429

Kem Ramadhan 1429

Masjid Asakusa 13-15 September

Bermula jam 3.00 petang Sabtu sehingga 8.00 pagi Isnin

contact: Wak 080-3579-2576 (softbank)

Tarbiyah intensif sempena Ramadhan.

Majlis Berbuka Puasa

Assalamualaikum warahmatullah,

Dengan penuh rasa kesyukuran kepada Allah, kami ingin menjemput anda semua ke Majlis Berbuka Puasa sempena bulan Ramadhan. Kami mengundang anda semua, family, abang, kakak, adik :D

Tempat : Shibaura Kougyou Daigaku
Eki : Higashi Oomiya
Tarikh : Ahad , 7 Ramadhan 1429 H bersamaan 7 September 2008
Masa : 1630 – 2030. Bermula pada waktu asar
.

Contact person

Dansei

1. 080-3579-2576(Shahrin@Wak)

2. 080-3579-2589(Fani)

3. 080-3600-2874(Kamarul)

Josei

1. 080-3019-2744 (Ayzan)

Bagi dansei kami mencadangkan agar bagi mereka yang mempunyai kesukaran untuk pulang terus ke rumah selepas program agar bersama-sama kami bermalam di Masjid Ootsuka kira-kira 50 minit jarak perjalanan dengan densha. Diharapkan dapat memberi konfirmasi kehadiran Sabtu 6 Sept / 6 Ramadhan atau secepat mungkin utk makanan dan pengangkutan ke tempat program.