Mengapa Mesti Satu Juz?

Hendaklah anda memiliki wirid harian membaca Al Qur`an minimum satu juz dan berusahalah bersungguh-sungguh agar jangan sampai mengkhatamkannya melebihi waktu satu bulan (Hasan Al-Banna)

Al Qur`an adalah sebuah kitab yang benar-benar luar biasa. Di dalamnya terdapat lautan hikmah dan pelajaran serta kebaikan untuk seluruh umat manusia tak terkecuali seorang pun. Jika seseorang sedang melakukan perjalanan jauh, tentu saja ia akan membawa bekal yang cukup untuk perjalanannya. Begitu pula halnya dengan Al Qur`an, Allah menurunkan Al Qur`an sebagai bekal (tazwid) dalam perjalanan hidup manusia. Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan maka seseorang tentu akan kesulitan mengharungi perjalanan panjang yang cukup meletihkan ini.

Al Qur`an diturunkan bukan hanya untuk disia-siakan, atau sekadar menjadi hiasan yang berdebu di dalam rumah kita. Justru Al Qur`an diturunkan agar manusia mengambil pelajaran dari dalamnya dengan cara membaca, menjiwai, bahkan menghafalnya, dan tentu saja yang terpenting setelah itu semua adalah mengamalkannya dalam kehidupan kita. Bagaimana mungkin kita mengaku sebagai seorang muslim sementara kitab kita sendiri tidak pernah dibaca atau disentuh. Bagaimana pula kehidupan seseorang yang jauh dengan Al Qur`an? Sesungguhnya berjauhan dengan Al Qur`an akan membuat ruhiyyah kita kering dan dapat melemahkan kita dalam menghadapi permasalahan hidup.

Allah di dalam Al Qur`an telah memberi jaminan dan anugerah bagi mereka yang selalu membaca Al Qur`an :

”Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Faathir : 29)

Keislaman kita hendaknya mampu membentuk komitmen dalam tilawah, lebih dari sekadar membaca, bahkan mesilah membentuk sikap ta`abbud kepada Allah sehingga menjadi sebuah proses tazwid yang berterusan. Bagaimana jika proses tazwid ini tertinggal selama seminggu, dua minggu, atau bahkan lebih? Ibarat seorang atlit olahraga yang akan menghadapi pertandingan besar. Ketika ia tidak melakukan latihan secara berterusan, maka otot-ototnya akan tegang dan ketika pertandingan dimulai, boleh jadi ia mesti melakukan warming-up yang lebih dan kemudian ia akan keletihan sebelum menghadapi pertandingan itu, karena apa? Karena persiapan yang ia lakukan tidaklah mencukupi dan terburu-buru.

Tarbiyah adalah proses perjalanan beribu-ribu kilometer jauhnya. Entah berapa langkah yang sudah kita lalui saat ini. Membina diri dengan Al Qur`an adalah suatu keperluan, karena sumber kebenaran itu ada pada Al Qur`an. Lalu mengapa mesti satu juz perhari? Kita mesti serius dengan tilawah satu juz perhari karena itu merupakan hakikat `ubudiyah, disiplin, dan akan menambah tsaqofah (ilmu/ wawasan). Apalagi jika kita telah memberi komitmen untuk menegakkan islam di bumi Allah ini, maka hendaknya kita menjadi batu-bata yang kukuh dalam bangunan islam. Sejarah mencatat bahwa para salafush shalih menyikapi apa yang disabdakan Rasulullah saw, ”Bacalah Al Qur`an dalam satu bulan!” sebagai sesuatu yang paling minimum. Subhanallah, bayangkan saja para salafush shalih, sahabat maupun sahabiyah yang kita tahu tingkat kualiti diri mereka yang sungguh luar biasa pun menjadikan satu juz itu sebagai target minimum dalam satu hari. Sementara kita pada hari ini, sebahagian besar menganggap satu juz itu sebagai target maksimum dalam satu hari. Jika demikian, bagaimana mungkin kita dapat mengulangi kejayaan para sahabat dalam membangun islam ini?

Jika tarbiyah qur`aniyah kita telah matang, kita pasti akan dapat merasakan bahawa sentuhan tarbawi surah Al-Baqarah berbeza dengan Ali-Imran. Begitu pula dengan surah-surah yang lainnya. Boleh jadi ketika seseorang sedang membaca surah An-Nisa, ia merindukan surah Al-Ma`idah. Itulah suasana tarbiyah yang belum kita rasakan dan harus dengan serius kita bina dalam diri kita. Sungguh, Al Qur`an adalah sarana tarbiyah terbaik bagi diri dan kehidupan kita, sarana membina diri, karena di dalamnya ketika lembar demi lembar kita buka dan kita baca sekaligus kita jiwai, maka kita akan merasakan suatu keunikan tersendiri dari Al Qur`an. Itulah mengapa dikatakan Al Qur`an adalah sebuah kitab yang luar biasa karena ia adalah perkataan Allah yang dipenuhi oleh pelbagai hal yang luar biasa.

Cara Bersungguh-Sungguh Dalam Tilawah Satu Juz setiap hari

1. Berusaha melancarkan tilawah jika belum lancar. Ukuran standard membaca satu juz adalah 30-40 minit, jika lebih lama dari itu maka berusahalah untuk memperlancar bacaannya. Bayangkan saja 30-40 minit dari 24 jam bukanlah waktu yang lama, namun kadang-kala kita lebih selalu berborak kosong atau menonton TV berjam-jam berbanding mengkhususkan masa untuk Al Qur`an selama setengah jam dalam satu hari.

2. Aturlah dalam diri kita ketentuan untuk komitmen ibadah satu juz tilawah perhari, jika tidak tercapai, hendaknya kita iqab (semacam hukuman) diri kita dengan iqab yang mampu membangkitkan kesungguhan kita, misalnya jika hari ini tidak sampai satu juz, maka esok harinya kita akan menggandakannya menjadi dua juz. Sebagai contoh para sahabat yang sering meng-iqab diri dengan bersedekah atau menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah. Subhanallah.

3. Cari tempat-tempat yang kondusif untuk melakukan tilawah karena kadang-kala kita memerlukan waktu sejenak untuk menyendiri.

4. Sering mengadu kepada Allah dan memohon untuk dimudahkan kesungguhan dan komitmen dalam melaksanakan ibadah tilawah ini. Bahkan selitkan di antara doa-doa kita permohonan agar kita dijadikan orang-orang yang dekat dengan Al Qur`an. Amin.

5. Perbanyak amal saleh karena amal saleh dapat menghasilkan energi baru untuk amal saleh selanjutnya.

Cabaran yang Harus Diwaspadai

1. Perasaan menganggap remeh ketika sehari tidak membaca Al Qur`an
2. Lemahnya wawasan tentang Al Qur`an sehingga tidak timbul motivasi untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al Qur`an
3. Tidak memiliki waktu wajib membaca Al Qur`an, dan membaca Al Qur`an sesempatnya saja atau bahkan dengan waktu-waktu sisa kita
4. Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan tilawah
5. Terpengaruh dengan  lingkungan sekeliling yang tidak memiliki perhatian terhadap tilawah Al Qur`an
6. Tidak tertarik dengan majlis yang menghidupkan Al Qur`an

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah lalu di antara mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketenangan yang diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah swt menyebut nama-nama mereka di sisi makhluk yang ada di dekatNya.” (HR. Imam Muslim)

Akibat Tidak Serius Melakukan Tilawah

1. Sedikitnya barakah dakwah atau `amal jihadi kita dan menjadi tanda lemahnya hubungan sebagai jundi kepada Allah swt.
2. Kemungkinan lainnya, tertangguhnya pertolongan Allah swt dalam amal jihadi. Jika salafush shalih saja tertangguh kemenangannya hanya karena meninggalkan sunah bersiwak, apalagi jika meninggalkan amal yang keperluannya jauh lebih besar dari itu.
3. Semakin jauhnya ashshalah (orisinilitas) dakwah. Dakwah kita adalah dakwah bil qur`an, mana mungkin kita mengumandangkan dakwah sementara hubungan kita dengan Al Qur`an sendiri lemah
4. Semakin jauhnya dakwah dari nuansa ilmu, padahal hakikat dakwah adalah meningkatkan kualiti keilmuan umat

Maraji` : Tarbiyah Syakhsiyah Qur`aniyah, Abdul Azis Abdur Rouf, LC

(diubah suai sedikit ke Bahasa Malaysia oleh matapensel)

catatan matapensel: Bagaimana tilawah dan tarbiyyah qur’ani kita di bulan Ramadhan? Syabas bagi yang berjaya khatam. Moga terus istiqamah di luar Ramadhan.

0 Responses to “Mengapa Mesti Satu Juz?”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply