Archive for the 'Tarbiyyah' Category

Virus-virus Ukhuwwah

Oleh: Mujahid Iman            Sumber: dakwah info

Seorang sahabat adalah manusia, dia itu dirimu, hanya saja ia adalah orang lain…

sekilas lalu,virus2 ukhuwah ini adalah seperti berikut:

1) tamak akan kenikmatan dunia (20:131)

“seseorang di antara kamu tidak beriman dengan sempurna kecuali setelah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.” (hadis Nabi)

2) lalai menjalankan ibadah dan melanggar tuntutan agama

“tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang kerana Allah berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.”(hadis Nabi)tidakkah kau tahu; kadang air itu busuk baunya walau warnanya tetap jernih

hadis Nabi: ..agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah.

3) tidak santun dalam berbicara
-suara tinggi/kata-kata kasar(31:19)
-tidak mendengar sarannya, enggan menatapnya ketika bicara atau mberi salam, tidak menghargai keberadaannya
-bergurau secara berlebihan
kelembutan adalah anugerah, ucapan paling baik adalah kejujuran
sedang bergurau secara berlebihan merupakan kunci segala permusuhan

-sering mendebat dan membantah

“sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan selalu membantah.” (hadis nabi)

-kritikan keras yang melukai perasaan

Continue reading ‘Virus-virus Ukhuwwah’

Harga sebuah kemaafan

Satu teriakan perlawanan, bukan ketakutan
Satu suara dalam kegelapan, satu ketukan pada pintu
Dan sebuah dunia yang menggemakannya bertalu-talu
-Henry Wardsworth Longfellow, Revere-

Tidak pernah terjadi dalam sejarah, para panglima pasukan musuh, seluruhnya masuk ke dalam agama penakluknya. Kecuali peristiwa yang indah itu; Fathul Makkah. Dan wanita ini ambil bahagian dalam kancah itu, dengan sebuah perjalanan yang sulit, dengan cinta yang rumit, dengan mengalahkan dendam yang pahit.

Namanya Ummu Hakim binti Al Harits. Dia lahir, tumbuh, dan merenda masa depan di tengah keluarga yang paling dahsyat permusuhannya terhadap da’wah Rasulullah, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ayahnya, Harits ibn Hisyam, hingga ajal menjemput tak henti memusuhi Sang Nabi. Paman, sekaligus mertuanya adalah Abu Jahl ibn Hisyam, Fir’aun-nya ummat ini. Dan harus kita sebut nama suaminya, ‘Ikrimah ibn Abu Jahl, panglima Makkah yang paling ganas dan ditakuti setelah Khalid ibn Al Walid.

Hari itu adalah hari takluknya Makkah. Nama suaminya berada di baris atas daftar pencarian pasukan Rasulullah. Untuk dibunuh. Karena permusuhan sengitnya yang tak kunjung henti, karena keganasannya dalam menyiksa kaum beriman. Juga demi pemusnahan dendam kesumat dan darah kejahatan yang mengalir dalam dirinya; darah Abu Jahl. Sebuah nama yang mendenging di telinga kaum muslimin sebagai pembantai orang beriman, penganiaya mukmin lemah, pengobar kebencian, permusuhan, dan peperangan.

Dia berharap hari itu suaminya akan memenuhi ajakan Khalid ibn Al Walid yang membawa pesan padanya, ”Masuklah Islam, engkau akan selamat!” Ya, masuk Islam saja. Atau setidaknya berpura-pura. Tapi jawaban ’Ikrimah sungguh menggiriskan hatinya. ”Andaikan di muka bumi ini tak tersisa lagi selain diriku, aku tetap takkan mengikuti Muhammad selama-lamanya!” Keras kepala! Keras kepala! Persis seperti ayahnya yang memilih kehancuran daripada kebenaran ketika berdoa, ”Ya Allah jika apa yang dibawa Muhammad itu memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dengan batu dari langit!”

Detik itu juga Ummu Hakim menyaksikan suaminya berkemas. Ia tak bertanya. Ia akan tahu nanti bahwa lelaki yang dicintainya itu pergi ke Yaman. Kini hatinya yang dirundung duka, dendam, dan lara itu itu harus ditata lebih dahulu. Mari kita bayangkan seorang wanita yang tumbuh di tengah ayah, mertua, suami dan keluarga besar yang paling sengit memerangi da’wah. Mencaci-maki Muhammad dan mencelanya sudah bagai ritual agama dalam rumahtangga dan keluarga besarnya.

Tentu ada dua kemungkinan tentang jiwanya sejak lama. Pertama, jika ia bersimpati pada Muhammad dan diam-diam beriman, atau setidaknya mendukung dalam hati. Tentu masa berpuluh tahun ini bukan masa yang mudah untuk dilaluinya. Ia harus menyembunyikan perasaan kagum dan dukungannya dari seluruh keluarga yang sering menyanyikan seruan permusuhan. Pahit sekali. Pahit sekali mendengar lelaki berakhlaq mulia, yang datang dengan segala kebaikan bagi Quraisy itu dihina dan direndahkan di telinganya. Atau kadang mungkin ia ditegur, ”Mengapa kau tak ikut mencela Muhammad?”

Atau kemungkinan kedua. Bahwa ia tak beda dengan suami, ayah, mertua atau pamannya. Seorang yang tumbuh dengan kebencian tak terperikan pada Islam. Pada Muhammad. Maka saat yang paling sulit dan rumit itu adalah sekarang. Ketika mertuanya yang perkasa, Abu Jahl telah lama gugur di Badar dengan meninggalkan luka di hati suaminya, dan di hatinya. Luka itu belum kering. Dendam itu masih menyala. Kini, ketika Muhammad datang bersama sepuluh ribu bala tentaranya. Ketika seluruh wangsa Quraisy harus tertunduk malu kepadanya di depan Ka’bah. Si yatim, si miskin, si santun itu kini memegang kendali nasib mereka. Maka, bagaimanakah perasaannya?

ia telah mengalami
apa yang mungkin dialami bumi ini
di saat ia terburai memanjang oleh mata bajak
sehingga bulir-bulir gandum bisa disemaikan
-Victor Hugo, Les Miserables-

Kita tak tahu keterangan pasti, bagaimana sebenarnya keadaan hatinya sejak semula. Yang jelas, saat ini dia akan melakukan sebuah hal besar yang melampaui segala perasaan itu. Hatinya yang kukuh –mungkin khas klan Bani Makhzum- menggerakkannya untuk menemui Rasulullah. Dan di hadapan beliau dia meminta satu hal yang menurut perkiraannya tak mungkin dipenuhi. Jaminan keamanan dari beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam untuk suaminya.

Sepertinya tak mungkin. Tapi apa salahnya berharap pada Allah Yang Maha Kuasa tentang seorang yang begitu damai memberikan pengampunan umum atas Quraisy hari itu. Muhammad seorang pemaaf, bukan pendendam. Meski suaminya ada di daftar atas para buronan, apa salahnya mencoba?

Dan Rasulullah memang menjawab, ”Ya.”

Bahkan Ummu Hakim pun terkejut menyaksikan begitu mudahnya jawaban itu keluar dari bibir sang manusia mulia. Dan diiringi senyum yang sangat manis, sangat damai. Tiba-tiba tubuhnya serasa ringan, hatinya lapang. Ia kini tak ragu bahwa Islam adalah pilihan hidup untuknya, dan untuk suaminya. ”Ah..”, gumam Ummu Hakim. Tapi ini baru langkah pertama. Meminta kepada Rasulullah jauh lebih mudah daripada membujuk suaminya. Dan untuk menemui lelaki itu pun bukan hal ringan. Ke Yaman. Ke Yaman yang jauh dengan perjalanan berbahaya, melintasi gurun kosong yang tak aman dari hewan buas dan manusia beringas. Ke sana ia harus menuju, menyusul lelaki gagah yang keras hati itu.

Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah..♥♥♥

“Saya menemukan satu jenis hasil ekskresi yang tidak menimbulkan rasa jijik”, tulis Kazuo Murakami dalam The Divine Message of The DNA. Ya, sekawan ia dengan keringat, urine, lendir, juga –maaf- najis. Tetapi apa yang kita rasakan saat melihat yang satu ini; air mata? Sangat berbeda dengan yang lain. Kilaunya justru memukau. “Walau saya tak mengerti”, kata Murakami, “Bagaimana emosi kita terinspirasi dalam benak, saya tahu bahwa saat saya tergerak hingga menangis, hati saya terasa dibersihkan dan tidak ada tempat lagi di dalamnya bagi kebencian maupun kemarahan.”

Dan itulah yang terjadi pada ’Ikrimah. Dia juga tak dapat menahan air mata, melihat kilau-kemilau di mata isterinya. Ia memang hanya setengah percaya pada pesan yang dibawa wanita tegar ini. Muhammad mengampuninya? Agak sulit menerima itu. Ia hanya setengah percaya pada pesan ini. Tapi ia sepenuhnya percaya pada selaksa kesulitan yang ditempuh Ummu Hakim untuk bisa menemuinya di Yaman. Ia percaya pada ketulusan wanita ini. Ia percaya pada cintanya. Ia tergerak di titik balik kehidupan, ketika semua yang dimilikinya terasa berantakan.

Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah..

Nun di Makkah sana, Sang Nabi tiba-tiba bersabda kepada shahabat-shahabatny a.

”Sebentar lagi ’Ikrimah ibn Abi Jahl akan datang ke tengah kita sebagai seorang mukmin yang berhijrah”, katanya, ”Maka kuminta kepada kalian untuk menghentikan semua celaan dan cacian kepada ayahnya!” Ya, mencaci dan mencela Abu Jahl selama ini seolah telah menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim. Tak pernah ada sesosok manusia yang kebengisannya kepada da’wah melebihi Abu Jahl, dan tak pernah ada sesosok manusia yang dibenci melebihi dirinya.

Tapi kini Sang Nabi, yang pernah dijeratnya dengan selendang, yang pernah ditimpuknya dengan isi perut unta, yang berkali-kali nyaris dibunuhnya meminta mereka untuk menyambut putera si musuh Allah dengan cinta sebagai saudara seiman. Tidak membenci, mungkin. Tapi mencintai? Memaafkan, mungkin. Tapi melupakan?

Di luar dugaan para shahabat, Sang Nabi memberi mereka pelajaran lebih jauh. Sosok agung itu melompat dari duduknya, bergegas maju menyambut, menjabat, dan memeluk ’Ikrimah! Sementara putera musuh Allah itu terbengong takjub.

”Ya Muhammad! Aku mendengar dari wanita ini bahwa engkau memberikan jaminan keamanan untukku. Benarkah itu?”

Ah.. dengarlah, dia masih menyebut isterinya dengan ’wanita ini’. Dan bahkan ia menanyakan jaminan keamanan terlebih dahulu sebelum menyatakan diri berislam.

”Benar. Engkau aman wahai ’Ikrimah..”

Maka ’Ikrimah pun masuk Islam, berislam dengan sempurna, dan menebus dirinya kepada Allah dengan syahid di Perang Yamamah. Dan tahukah kalian para shahabatku di jalan cinta para pejuang, bahwa baru sejak saat itulah, sejak suaminya masuk Islam Ummu Hakim merasa cintanya pada suami berbalas ketulusan yang sama? Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah. Berbahagialah ’Ikrimah yang digerakkan cinta kepada hidayah. Berbahagialah Ummu Hakim yang digerakkan hidayah kepada cinta..

Di jalan cinta pejuang, bahkan hal kecil seperti air mata yang bening, bisa menjadi sebuah gairah yang menggerakkan manusia, mengubah dunia..

-Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, hal 205-210..
(Diubahsuai sedikit ke Bahasa Malaysia oleh matapensel)

Autumn (Story from my Lord)

autumnjapan

Syukur kehadrat Illahi kerana dgn rahmatNya, kita dapat hadir (ke tempat) utk melihat satu lagi kebesaran Allah.

Musim luruh di dalam quran

39:21. tidakkah Engkau memerhatikan? Bahawa Allah menurunkan air dari langit, lalu dialirkanNya menjadi sumber-sumber air di bumi; kemudian ia menumbuhkan Dengan air itu tanaman-tanaman Yang bermacam-macam warnanya; kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya menjadi kekuning-kuningan; kemudian ia menjadikannya hancur berderai-derai. Sesungguhnya Segala Yang tersebut itu mengandungi peringatan Yang menyedarkan orang-orang Yang berakal sempurna.

…………………………………………………………………

Melihat perubahan musim yang tersusun dgn cantik adalah satu kebesaran Allah. Berbeza dgn mesia yang takde musim yang 4. berada di Jepun kita patut bersyukur krn berpeluang merasai 4 musim nih. Kalo kite tengok.. susanan musim ini sangat cantik…begitu teratur mengikut aturan yg tetap…kadar yang tetap… Setelah musim panas, pasti diikuti musim (luruh)autumn..kemudian barulah musim sejuk dan kemudian musim bunga. Setiap musim ada aturan/ketetapan dan kadar tertentu. Dari segi panjangnye, dan kedudukannya diantara musim2.. tidak pernah musim panas kemudian diikuti terus musim sejuk.. atau tidak pernah musim luruh diikuti dgn musim bunga.. tidak pernah walaupun sekali.. begitu juga, tidak pernah musim luruh itu lebih panjang dari musim salji, walaupun sehari, walaupun sejam.. walaupun seminit… sesungguhnya semuanya dalam aturan yang sangat cantik..iaitu aturan Allah.. ketetapan Allah..sunnatullah alam buat manusia… Subhanallah…

Sebagaimana.. tidak pernah sekalipun, bulan terfikir utk ‘lari’ dari mengelilingi bumi… begitu juga bumi tidak pernah terfikir utk ‘lari’ dari mengelilingi matahari.. begitu juga matahari, tidak pernah terfikir utk ‘lari’ dari orbitnya dalam bima sakti.. dan seterusnya… semuanya ada ketetapan Allah…

Bagaimana pula manusia? … ada kalanya manusia itu ‘lari’ dari ‘orbit’nya utk mengingati dan mengabdika dirinya kepada Allah… seharusnya kita malu kita kepada musim2 ini.. bulan, bumi dan matahari…. seandainya kita terfikir utk ‘lari’ dari ‘orbit’ kita….

daun-gugur1Daun yg gugur….

Kita dapat melihat setiap daun itu luruh satu demi satu.. ada qadar yg tertentu… dari batangnye yang hijau, kemudian bertukar kuning, kemudian coklat, kemudian rapuh dan akhirnya gugur ke bumi.. itu satu ketetapan Allah.. tidak pernah dari yg hijau tibe2 luruh (lain lah kalo dipetik org …) semuanya dalam aturan yang teliti.. ade kadar masa yang tetap utk mulanya pucuk (warna ijau) … ade kadar masa yang tetap…utk layu (kuning..) ada kadar masa yang tetap utk jadi coklat (mati) dan ade kadar masa yg tetap sebelum ia betul2 gugur dgn kadar tiupan angin (¿??km/j) , atau dgn kadar gigitan ulat2 pokok (10 gigitan…20…1000gigitan) ..atau kadar jatuhan dedaun lain atas daun yg akan gugur (berapa degree ke kanan, atau ke kiri..bape degree baru kene daun yg bawah tu, kemudian yang bawah lagi.. etc etc ) .. semuanya itu dalam kekuasaan Allah.. dalam pengetahuan Allah.. subhanallah

Semua itu dalam pengetahuan Allah…

6:59. dan pada sisi Allah jualah anak kunci perbendaharaan Segala Yang ghaib, tiada sesiapa Yang mengetahuiNya melainkan Dia lah sahaja; dan ia mengetahui apa Yang ada di darat dan di laut; dan tidak gugur sehelai daun pun melainkan ia mengetahuinya, dan tidak gugur sebutir bijipun Dalam kegelapan bumi dan tidak gugur Yang basah dan Yang kering, melainkan (Semuanya) ada tertulis di Dalam Kitab (Lauh Mahfuz) Yang terang nyata.

Subhanallah…

Moga dgn melihat keindahan daun2 yang berguguran di taman ini.. kita berdoa kepada Allah .. agar Allah meng’gugur’kan segala dosa2 kita yang telah lalu… sebanyak mana gugurnya daun2 pada musim luruh ini… malah bukan daun2 disini sahaja, malah seluruh bumi ini… nastaghfirullah….

Doa org yang melihat keindahan kejadian Allah…

3:190. Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah) bagi orang-orang Yang berakal;

3:191. (Iaitu) orang-orang Yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring, dan mereka pula memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini Dengan sia-sia, Maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari azab neraka.

Sesungguhnya setiap kejadian itu tanda kekuasaan Allah.. sebagai org yang berakal (ulul albab) ..seharusnya kita sentiasa memuji kebesaran Allah.. dan berdoa seperti doa2 org ulul albab….’ Wahai Tuhan kami! tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini Dengan sia-sia, Maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari azab neraka’

Wallahu a’lam bishowab…

L I A T

originally posted by ‘abdullah.

Anda punya rahsia atau petua bagaimana melembutkan daging yang liat? Saya
punya, yang entah benar entah tidak. Ini kerana saya sendiri tidak pernah
mencubanya, saya sendiri tidak di”turunkan” petua ini kepada saya. Tetapi
saya merungkai petua melunak lembutkan daging liat ini lewat pemerhatian
saya, terhadap masakan dan kaedah yang digunakan oleh ibu saya tiap kali
berhadapan dengan daging yang liat.

Petuanya mudah saja. Anda rendamkan dan rebuskan daging itu di dalam air.
Maka lunaklah ia -insyaALLAH. Adakah petua menghilangkan keliatan daging
yang saya kemukan ini benar? Adakah anda setuju dengan petua saya?

Begitulah menghadapi keliatan manusia. Manusia -pada ketikanya- akan liat
untuk bangun tahajud. Liat untuk bangun solat Subuh. Bahkan terlebih liat
untuk bangun mempertahan dan memperjuangkan kemuliaan dan eksistensi
agamanya. Maka, bagaimana caranya melunakkan rasa liat ini?

Rendamkanlah dirimu dalam “air” yang memang sifatnya melembutkan. Kalau
selama ini sang daging bercengkarama dengan keliatannya di atas darat, maka
ianya bisa dirungkai tatkala ia menghadapi hidup di dalam air. Segeralah
cari “air” bagi memulakan kehidupan barumu. Air itu berupa suasana beragama,
suasana tarbiyah, suasana zikir dan fikir.

Itulah sebabnya Nabi SAW dirunkan ke persada bumi ini, guna untuk mensucikan
(tazkiyah) relung-relung hati manusia, selain mentilawah membacakan
ayat-ayat ALLAH kepada mereka dan mengajarkan buat mereka khazanah ilmu dan
hikmah (Surah 62:2).

Itulah sebabnya, Nabi SAW sudah memperingatkan betapa seketul daging di
dalam tubuh anak Adam itulah yang menentukan liat tak liatnya ia kepada
kebaikan dan kebenaran, atau lemahnya ia hingga melutut kepada gudang
kemaksiatan.

Ini kerana hati itu bisa keras, maka lembutkanlah ia dengan zikrullah.
Lunakkanlah ia dengan tilawah. Suburkanlah ia dengan tarbiyah, berbaja dan
bersiramkan ukhuwwah islamiyah. Segeralah masuk ke jeram air itu, agar kita
jauh dari pancingan syahwat. Benarlah dikau duhai Imam as-Syafi’e;
“sibukkanlah dirimu dengan ibadah, jika tidak, engkau akan disibukkan dengan
maksiat.”

Nasihati diriku (Aussini)

Bismillahirrahmanir rahim..

Tatkala jiwa seorang daie telah bertaqwa sepenuhya kepada Allah..
merasakan muraqabah dan keagunganNya di dalam hati..
rutin membaca Al-Quran dengan tadabbur dan penuh kekhusyukan. .
menyertai Nabi dengan berqudwah kepadanya..
menyertai orang-orang yg soleh yg berma’rifah kepada Allah dengan menimba berbagai hikmah dan kebaikan dari mereka..
berzikir mengingati Allah secara berterusan untuk menambah keteguhan dan ketenangan..
selalu melakukan ibadah nafilah untuk mendekatkan diri dan menambah kekhusyukan. .

Apabila seorang daie sudah memiliki itu semua, maka ketika berbicara atau berkhutbah atau mengajak ke jalan Allah, niscaya akan anda temukan keimanan memancar dari kedua bola matanya, keikhlasan nampak jelas menghias raut wajahnya, dan kejujuran terus mengalir bersama kelembutan suaranya, ketenangan iramanya, serta isyarat-isyarat tangannya.

Bahkan perkataannya akan meresap ke dalam hati dan melenyapkan kegelapan jiwa. Seperti air sejuk yg meresap di kerongkongan orang yg kehausan, bak nur cahaya yg memusnahkan kegelapan. Mereka itulah orang-orang yg memperoleh petunjuk. Dakwah mereka akan mendapat sambutan luas. Dengan nasihat mereka hati bergetar dan mata menangis. Dengan peringatan mereka para ahli maksiat bertaubat dan orang-orang sesat sedar serta kembali ke jalan yg lurus.

Begitu jugalah pengaruh rohani terhadap pemahaman dan cara pengambilan hukum. Tatkala jiwa seorang daie memancarkan rohani, berhubungan erat dengan Allah, dan memiliki ketaqwaan; tersingkaplah baginya berbagai hakikat dan makna. Terbukalah rahsia-rahsia yg tidak dimengertikan kecuali oleh orang-orang yg bertaqwa.

Seorang daie rabbani ketika berada pada tingkat ketaqwaan, pemahaman, dan rohani yg tinggi, ketika sudah memiliki nilai-nilai luhur seperti ikhlas, jujur, kehangatan iman, dan aktif dalam dakwah, niscaya dia akan berangkat ke medan dakwah, tabligh, dan jihad. Baik sebagai pemberi petunjuk mubaligh mahupun daie yg mengajak ke jalan Allah secara jujur serta berjuang dgn penuh keikhlasan sehingga ia melihat umat Islam dalam keadaan menang dan kebatilan terpukul mundur. Mereka melihat panji al-Haq berkibar di atas panji-panji lain. Pada saat itulah seorang daie baru bergembira kerana adanya kemenangan dan pertolongan Allah.

-Abdullah Nasih Ulwan, Menuju Ketaqwaan (Tarbiyyah Ruhiyah)-

malulah kepada si burung ..

…”Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud” ..(34 : 10)

Ketahuilah wahai saudaraku (semoga Allah menganugerahkan sebaik2 taufiq kpd saya dan anda) bahawa setiap manusia itu mempunyai tujuan utama dalam hidupnya. Di mana seluruh pemikiran diarahkan kesana, semua amal perbuatan tertuju kepadanya dan semua cita2 terpusat padanya. Tujuan asasi itu dikenal luas dgn istilah ‘idealisme’. Apabila tujuan ini bergelojak di dalam jiwa mereka, maka akan menghasilkan amal2 mulia, jiwa pemiliknya akan memiliki keindahan ruhani (ketenangan), dan selalu terdorong utk mencapai kesempurnaan (yang difikirkannya), hingga dapatlah pada satu hari nanti meraih kemuliaan yang telah ditakdirkan utknya.

Islam (yang dtg utk memperbaiki jiwa manusia, mensucikannya, dan membimbingnya menuju puncak kesempurnaan yg mungkin dapat diraih) telah menjelaskan tujuan tertinggi kpd seluruh manusia dan mendorong mereka menuju idalisme tertinggi. Idealisme tersebut adalah ‘ke-Mahasucian Allah swt”. Ayat Al-quran menyatakan,


50. (Katakanlah Wahai Muhammad kepada mereka): “Maka segeralah kamu kembali kepada Allah (dengan bertaubat dan taat), Sesungguhnya Aku diutuskan Allah kepada kamu, sebagai pemberi amaran Yang nyata.

Apabila anda telah mengetahui hal ini wahai saudaraku, maka jgn hairan jika seorg muslim selalu berzikir kpd Allah dlm semua keadaan dan berusaha mewarisi dari Nabi saw.(makhluk yg plg mengenal Rabb-Nya) beberapa kalimat indah dan mendalam dari zikir, do’a, syukur, tasbih, dan pujian dalam setiap kesempatan, baik kesempatan kecil maupun besar, serta kesempatan berharga ataupun remeh. Sebab Nabi saw, selau berzikir dalam semua kesempatan. Juga jangan hairan jika kami menuntut para rijal kami agar mengikuti sunnah Nabi saw dan meneladaninya dgn cara menghafal zikir2 ini dan mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun dengannya.

21. Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan Yang baik, Iaitu bagi orang Yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat, serta ia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)

Jalan kita sama

Bismillahirahmanirahim. Saya mulakan dengan potongan ayat dari surah ‘the night’ atau ‘al-layl’.

“Demi malam ketika ia menyelubungi. Demi siang ketika ia terserlah terang bendenrang. Demi makhluk ciptaanNya lelaki dan perempuan.” (al-Layl 1-3).

Teringat satu ketika, saya keluar bersama zaujati di waktu malam. Sambil memerhatikan langit yang hitam dihiasi bintang.

“langit ni .. macam satu beg plastik yg menyelubungi bumi. Ade koyak-koyak (bintang yang menyinari) .. kan bang?”

sodaqaAllahul ‘azim. Malam itu memang menyelubungi bumi. Sebagai satu miracle dan tanda bagi orang yang berfikir.

Allah (Tuhan yang menciptakan seluruh alam ini) bersumpah dengan miracle-miracle ini.. untuk menarik perhatian manusia, wahai kau manusia, perhatikanlah ini dan itu .. ada perkara yang penting akan kau dengari selepas ini.

Perkara yang sering kau perdebatkan dalam perbincanganmu, perkara yang sering menjadi isu hangat di forum-forum di laman web yang melata ke seluruh pelusuk dunia, perkara yang sering kau confusekan, perkara yang lebih kau sukai berbincang mengenainya dari membersihkan dirimu (tazkiyatun nafs), dari berusaha mendekatkan diri kepada Tuhanmu (Taqarrub illaAllah), dari berusaha mengenal Allah (ma’rifatullah), Sang Rabbul’alamin.

Surah inilah jawapannya. Surah inilah penentunya. Jawapan dan penentu kepada persoalan-persoalan. mana satu ni? Betul ke tak betul? Ape bezanya? Boleh ke ade macam ni? Yang sering kau debatkan dengan panjang lebar untuk menentukan mana satukah yang betul. Sedang Tuhanmu telah pon memutuskannya, telah pon menetapkan jawapannya.

Persoalan tentang apa? Ya. Tentang “j e m a a h”. (bukankah kau sangat suka mendebatkannya?)

Sedang kau abaikan keputusan Tuhanmu..

“Demi malam ketika ia menyelubungi. Demi siang ketika ia terserlah terang bendenrang. Demi makhluk ciptaanNya lelaki dan perempuan. Sesungguhnya amal kamu bermacam-macam.” (al-Layl 1-4)

Tujuan Allah bersumpah dengan malam dan siang. Lelaki dan perempuan yang berbentuk complementary (saling melengkapi) adalah untuk menerangkan kepada kamu wahai manusia.. sesungguhnya amal kamu bermacam-macam. Usaha kamu berlainan dari segi hakikatnya, dari segi motifnya, dari segi arah tujuannya, dan dari segi hasilnya. Manusia di bumi ini berlainan dan tidak sama dari segi tabiat dan kecenderungan, dari segi fikiran dan minat. Semuanya masing-masing dan berbeza. Setiap orang merupakan dunia yang tersendiri yang hidup dalam planet yang tersendiri.

Ini merupakan satu hakikat, tetapi di sana ada lagi satu hakikat yang lain iaitu hakikat umum yang merangkul seluruh manusia dengan alam mereka yang berlainan itu. Di mana seluruh manusia yang berlainan tadi dikumpulkan dalam dua barisan yang mempunyai panji masing-masing.

Iaitu golongan pertama ;

Adapun orang yang memberi dan bertaqwa, dan percaya kepada aqidah yang paling indah. (al-Layl 5-6)

Dan golongan yang kedua ;

Adapon orang yang kikir dan merasa dirinya serba cukup. Dan tidak percaya kepada aqidah yang paling indah. (al-Layl 8-9)

Inilah dua barisan, yang menjadi tempat pertemuan berbagai-bagai jiwa dan usaha, berbagai-bagai cara-hidup dan berbagai-bagai matlamatnya. Masing-masing mempunyai jalan sendiri dan masing-masing mempunyai kemudahannya.

Adapun orang yang memberi dan bertaqwa, dan percaya kepada aqidah yang paling indah. Kami akan mudahkannya ke jalan kesenangan (al-Layl 5-7) (dari fizilalil quran)

Pokoknya adalah bekorban (memberi) dan bertaqwa. Serta berpegang teguh dengan aqidah yang paling indah. Iaitu aqidah Islam. Setelah ia telah bekorban, bertaqwa dan tsabat (tetap teguh) di jalanNya, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju kesenangan, jalan yang diimpikan setiap manusia. Kesenagan. Sesiapa yang Allah berikan kesenagan, maka sangat tenteramlah hidup dan setiap langkahnya. (ringkasan dari fizilalil quran)

Itulah keputusan Tuhanmu, yang tidak perlu kau perdebatkan lagi, Allah mahukan usaha dan pengorbananmu. Yang Allah sangat mengetahui, ianya bermacam-macam. Itulah penetapannya yang tak perlu kau confusekan lagi. Allah inginkan kau memberi dan bertaqwa, serta berpegang pada aqidah yang paling indah ini. Biar di manapon kau berada. insyaAllah jalan kita tetap sama. insyaAllah kita berada di bawah satu panji. Satu barisan manusia yang Allah rangkumkan, iaitu golongan orang yang memberi dan bertaqwa, dan percaya kepada aqidah yang paling indah. Maka kami akan mudahkannya ke jalan kesenangan.

“Adapun sikap dan pendirian kita terhdp semua pertubuhan islam ialah sikap kasih sayang, persaudaraan, tolong menolong dan kesetiaan, kita sayang mereka, kita tolong, kita berusaha mencari jalan untuk mendekatkan jurang perbezaan pendapat, kita baiki pemikiran2 yang berlainan supaya dapat pertolongan utk dapat kebenaran di bawah lindungan bertolongan dan kasih sayang, kita jgn dipisahjauhkan oleh pendapat feqah atau masalah perbezaan mazhab. Sesungguhnya agama Allah ini adalah mudah, tiada yang siapa yang boleh menyusahkan agama Allah. Dengan taufiq Allah kita telah dapat mencapainya. Kita menyelidik mencari yang haq melalui cara yang mudah yang dapat diterima akal. Kita yakin sesungguhnya suatu hari kelak akan gugur nama2 atau gelaran2 yang membezakan antara satu jemaah dgn satu jemaah orang islam, akan digantikan tempatnya oleh kesatuan kerja menyatukan barisan2 angkatan pengikut Nabi s.a.w. Tidak ada selain dari saudara2 muslim yang bekerja kuat utk agama dan berjuang utk agama Allah.” Imam hasanul banna

waAllahua’alam

Sudah Ketinggalan dengan Ah Chong?

Tidak pantas bagi seseorang yang benar-benar mengakui pejuang al-Haq untuk berlepas pandang terhadap hakikat alam di sekelilingnya. Dia perlulah meneliti dan memahami tabiat alam dengan sebenar-benarnya. Sudah menjadi risalah agungnya untuk memastikan bahawa alam ini bergerak selari dengan harakat (pergerakan) yang ditentukan oleh Penciptanya. Kegagalan memerhatikan dan tidak peduli akan tabiat harakat alam, bermakna dia sedang cuba melepaskan diri dari amanahnya dan meredhai perbuatan tangan-tangan Taghut yang bebas mengawal arah tuju pergerakan alam menurut al-Hawa mereka.

Allah memberi amaran keras kepada setiap manusia untuk berlindung daripada azabNya yang akan menimpa bukan sahaja kepada penyembah-penyembah Taghut bahkan kepada orang-orang Islam yang lalai daripada amanahnya iaitu mengembalikan harakat alam ke tabiat asalnya.

“Takutilah olehmu akan fitnah (azab bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim sahaja di kalangan kamu dan ketahuilah bahawa Allah amat keras seksaannya” (Anfal, 8:25)

Kerana amanah yang agung inilah manusia telah dimuliakan oleh seluruh penghuni langit apabila mereka diperintahkan untuk sujud kepada manusia. Tetapi makhluk yang bernama manusia itu lalai dan telah melupakan amanahnya. Kemuliaannya kini telah dirampas akibat leka dengan perhiasan dunia, tak ubah seperti kanak-kanak yang asyik dengan permainannya di tadika-tadika asuhan.

Ammu Sayyid Qutb telah menafsirkan tabiat harakat alam pada zamannya seperti mana yang terungkap dalam pembukaan karya agungnya yang telah menjadi titik peralihan bagi pemikiran pergerakan Islam, Ma’alim Fith Thariq; kejatuhan blok-blok pemuja Taghut yang bernama komunisme dan sosialisme mendesak kepada satu kuasa baru yang dapat mengembalikan maruah umat manusia yang pernah dimuliakan oleh penghuni langit suatu masa dulu. Kuasa itu tak lain dan tak bukan adalah kuasa yang berpandukan seluruhnya kepada Al-Quran.

Continue reading ‘Sudah Ketinggalan dengan Ah Chong?’

Bangsa yang Miskin

“Ada sejenis kemiskinan yang sangat mengerikan bagi suatu bangsa. Bukan kemiskinan yang seperti difahami oleh umat manusia saat ini, tetapi kemiskinan yang menjadi pangkal kehinaan di dunia dan akhirat.

Kemiskinan ini akan membuat suatu bangsa terkubur dalam penderitaan dan penguasaan bangsa lain selama-lamanya.

Biasanya suatu bangsa boleh dikatakan miskin kerana sumber daya mereka tidak menghasilkan perdagangan yang cukup atau miskin kerana dibodohi bangsa lain. Tetapi Al-Quran menyebutkan yang lebih dari itu, ada suatu kemiskinan iman kepada Allah dan RasulNya,

kemiskinan penghayatan terhadap sejarah hidup utusan Allah iaitu Muhammad saw yang cemerlang.

Penderitaan bangsa-bangsa di dunia sekarang ini, bukan sekadar disebabkan kerana tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam mereka.

Yang lebih parah lagi adalah kerana mereka tidak punya sejarah, atau tidak punya kebanggaan masa lalu. Di saat seperti itu, bangsa tersebut tidak akan memiliki motivasi untuk bangkit memperbaiki nasibnya.

Akhirnya jiwa budak dan pelakon pelengkap penderita akan tetap membelenggu mereka.

Umat Islam yang kita cintai ini, sebenarnya memiliki sejarah dan peradaban masa lampau yang sangat agung.

Terutama dalam perjalanan sirah Nabi mereka yang penuh dengan barakah dan hikmah. Namun, kebanyakan mereka mengabaikannya. Sementara, kebanggaan terhadap sejarah Islam secara umum pun tercabik-cabik di sana-sini. Ini kerana masuknya peradaban barat melalui imperialisme yang perlahan-lahan menggeser semangat penghayatan sejarah pada kaum muslimin.

Para penjajah telah membuat umat Islam jauh dari sejarah mereka yang agung sekaligus berhasil menanamkan semangat kebanggaan jahiliyah di sebahagian kaum muda.”

Sang Murobbi – KH Rahmat Abdullah, petikan pengantar Manhaj Haraki.

Jauhnya kapal berlayar

“Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh.”
Begitu keluh kesah seorang mad’u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. 

Lalu apa yang ingin anta lakukan setelah merasakan semua itu? ” sahut sang murobbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja.” Jawab mad’u itu. 

Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

Akhi, bila suatu kali anta naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan anta lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?”.
Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad’u terdiam dan berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
“Apakah anta memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?”.
Sang murobbi mencoba memberi pilihan.
“Bila anta terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan anta untuk berenang hingga tujuan?. Bagaimana bila ikan yu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?”
 
Serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad’u. Tak ayal, sang mad’u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kian memuncak, namun sang murobbi yang dihormati justeru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. 

“Akhi, apakah anta masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju redha Allah? “Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kenderai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Anta akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? “ . Tanya sang murobbi lagi. 

Sang mad’u tetap terdiam dalam senggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya :”Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan Ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medal kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan… . 
Biarlah yang lain dengan urusan peribadinya masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janjiNya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana”.

Sang mad’u berazam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya. 

Sang murobbi tersenyum.

Akhi, jama’ah ini adalah jamaah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki . Mereka adalah peribadi-peribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah. Bila ada satu dua kelemahan & kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan anta. Sebagaimana Allah ta’ala menghapuskan dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuskanlah kesalahan mereka di mata anta dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu anta lebih baik dari mereka.” 

“Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan keluar yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?”sambungnya panjang lebar. Kita bukan sekadar penonton yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da’i. kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.

“Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil.tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!” “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausiyah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isu atau gossip tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. “ 

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraaan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad’u bergegas mengambil wudhu untuk berqiyamulail. Malam itu, sang mad’u sibuk membangunkan mad’u yang lain dari asyik tidurnya. Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya.

 
Demikian yang kami harapkan dari antum sekalian.

Next Page »